Heru Kurniawan *
sinarharapan.co.id
“Aku mencintaimu,” kata ini meluncur dari seorang pemuda yang berpakaian
rombeng dan belepotan kotor. Ia nyengir, seperti tak ada beban berkata seperti
itu. Dan perempuan yang diajaknya bicara hanya cengar-cengir,
menggerak-gerakkan tubuhnya yang terbalut kain kotor. Ia senyam-senyum,
cengengesan dan mengulum ibu jarinya.
“A…..pa, akang mencintaiku,” kata perempuan itu pelan dan lenjeh, “aku juga
mencintai akang,” lanjutnya.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Minggu, 29 Agustus 2021
Jumat, 27 Agustus 2021
Djakarta
Pramoedya Ananta Toer
kandangpadati.wordpress.com
Almanak Seni 1957
Sekarang tiba gilirannja: dia djuga mau pergi ke Djakarta.
Aku takkan salahkan kau, mengapa kau ingin djadi wargakota Djakarta pula. Besok atau lusa keinginan dan tjita itu akan timbul djuga. Engkau di pedalaman terlampau banjak memandang ke Djakarta. Engkau bangunkan Djakarta dalam anganmu dengan segala kemegahan jang tak terdapat di tempatmu sendiri. Kau gandrung padanja. Kau kumpulkan tekat segumpil demi segumpil.
kandangpadati.wordpress.com
Almanak Seni 1957
Sekarang tiba gilirannja: dia djuga mau pergi ke Djakarta.
Aku takkan salahkan kau, mengapa kau ingin djadi wargakota Djakarta pula. Besok atau lusa keinginan dan tjita itu akan timbul djuga. Engkau di pedalaman terlampau banjak memandang ke Djakarta. Engkau bangunkan Djakarta dalam anganmu dengan segala kemegahan jang tak terdapat di tempatmu sendiri. Kau gandrung padanja. Kau kumpulkan tekat segumpil demi segumpil.
Dijemput Mamaknya
Hamka
tapaksastraa.blogspot.com
Musa yang hidupnya sangat miskin dan menderita memutuskan untuk menikah dengan Ramah. Karena hidup serba kekurangan, kehidupan keluarga mereka tidak bahagia. Kemiskinannya pula yang menyebabkan mamak serta keluarga pihak istrinya menghina Musa. Mereka selalu membicarakan ketidakmampuan Musa dalam mengemudikan rumah tangganya. Lama kelamaan Musa merasa tidak tahan lagi menerima perlakuan mertua dan keluarga iparnya dan ia memutuskan untuk membawa istrinya merantau ke Deli.
tapaksastraa.blogspot.com
Musa yang hidupnya sangat miskin dan menderita memutuskan untuk menikah dengan Ramah. Karena hidup serba kekurangan, kehidupan keluarga mereka tidak bahagia. Kemiskinannya pula yang menyebabkan mamak serta keluarga pihak istrinya menghina Musa. Mereka selalu membicarakan ketidakmampuan Musa dalam mengemudikan rumah tangganya. Lama kelamaan Musa merasa tidak tahan lagi menerima perlakuan mertua dan keluarga iparnya dan ia memutuskan untuk membawa istrinya merantau ke Deli.
Rabu, 25 Agustus 2021
Bagaimana Cinta Menghabisi
Muhammad Yasir
Di atas meja triplek berwarna hitam, berlembar-lembar kertas berserakan. Di luar jendela, gang sempit membentang lengkap dengan bendera kebangsaan yang lusuh, melambai-lambai diterpa angin, seakan-akan atau seperti yang telah dikatakan bahwa bangsa ini telah merdeka dari kolonialisme putih. Di sisi kanan meja, ada kursi kayu tua dipernis sedemikian rupa, sehingga dapatlah engkau melihat dirimu di sana. Di sisi kiri meja, gorden berumbai pembatas ruangan yang tidak begitu luas itu dengan dua kamar, terayun-ayun. Tujuh kaki dari meja itu, pintu kaca berdecit. Itu terdengar seperti requiem. Kadang-kadang, terlihat seperti rengkuh seorang tentara yang hidup tanpa sepasang tangan.
Di atas meja triplek berwarna hitam, berlembar-lembar kertas berserakan. Di luar jendela, gang sempit membentang lengkap dengan bendera kebangsaan yang lusuh, melambai-lambai diterpa angin, seakan-akan atau seperti yang telah dikatakan bahwa bangsa ini telah merdeka dari kolonialisme putih. Di sisi kanan meja, ada kursi kayu tua dipernis sedemikian rupa, sehingga dapatlah engkau melihat dirimu di sana. Di sisi kiri meja, gorden berumbai pembatas ruangan yang tidak begitu luas itu dengan dua kamar, terayun-ayun. Tujuh kaki dari meja itu, pintu kaca berdecit. Itu terdengar seperti requiem. Kadang-kadang, terlihat seperti rengkuh seorang tentara yang hidup tanpa sepasang tangan.
Minggu, 15 Agustus 2021
Sehelai Kain Kafan
Mahwi Air Tawar
cerpenkompas.wordpress.com
1/
Ia bergegas. Tangan kirinya menyingkap ujung sarungnya hingga beberapa inci dari mata kaki. Layaknya seorang penari memainkan satu komposisi. Berlenggak. Pinggulnya bergoyang ke kanan ke kiri, melangkah pasti sambil menjejaki jalan setapak perkampungan. Sementara lentik jemari tangan kanannya mengapit sisi bundelan kain agar tak tergelincir dari kepalanya.
cerpenkompas.wordpress.com
1/
Ia bergegas. Tangan kirinya menyingkap ujung sarungnya hingga beberapa inci dari mata kaki. Layaknya seorang penari memainkan satu komposisi. Berlenggak. Pinggulnya bergoyang ke kanan ke kiri, melangkah pasti sambil menjejaki jalan setapak perkampungan. Sementara lentik jemari tangan kanannya mengapit sisi bundelan kain agar tak tergelincir dari kepalanya.
Selasa, 03 Agustus 2021
Khotbah Ketua Dewan Pemakaman Rakyat
Muhammad Yasir
Hanya para Dewan Pemakaman Rakyat itulah yang benar-benar mengerti bagaimana dan seperti apa tata cara terbaik dan mulia menghantarkan manusia ke rumah terakhir mereka di Bumi! Bagaimana pun engkau mendebat mereka, sekali pun telah engkau khatamkan kitab hukum dan undang-undang, sosial dan politik, bahkan filsafat Timur dan Barat, sungguhlah mereka hanya akan menertawakanmu! Mereka, bukan binatang-binatang di gedung perwakilan atau departemen keadilan dan hak asasi manusia. Jadi, meskipun engkau seorang intelek-komprador berpangkat atau seorang menteri yang doyan menonton pertunjukan cengeng di televisi murahan, sekali lagi, mereka hanya akan menertawakanmu!
Hanya para Dewan Pemakaman Rakyat itulah yang benar-benar mengerti bagaimana dan seperti apa tata cara terbaik dan mulia menghantarkan manusia ke rumah terakhir mereka di Bumi! Bagaimana pun engkau mendebat mereka, sekali pun telah engkau khatamkan kitab hukum dan undang-undang, sosial dan politik, bahkan filsafat Timur dan Barat, sungguhlah mereka hanya akan menertawakanmu! Mereka, bukan binatang-binatang di gedung perwakilan atau departemen keadilan dan hak asasi manusia. Jadi, meskipun engkau seorang intelek-komprador berpangkat atau seorang menteri yang doyan menonton pertunjukan cengeng di televisi murahan, sekali lagi, mereka hanya akan menertawakanmu!
Sabtu, 31 Juli 2021
Rahasia Kumari
Agus Dermawan T
Suara Pembaruan, 04 Nov 2007
Tanggal 7 bulan 7 tahun 2007 jam 7 pagi terlanjur dimitoskan orang sebagai waktu yang istimewa. Oleh karena itu studio Radio Swarakita pada jam, tanggal dan bulan itu banyak menerima tawaran siaran langsung dari berbagai pihak. Seorang pendeta jauh hari telah meminta radio untuk membuka pintu untuknya, agar pada saat itu ia bisa siaran khotbahnya. Seorang pengusaha muda dan sebuah grup band yang siap moncer juga menyorongkan jadwal yang sama. Seorang politisi anggota DPR ingin berbicara tentang "Indonesia yang lebih baik" pada jam 7 pula. Begitu juga seorang kyai yang biasanya menyiarkan dakwah magrib di radio itu.
Suara Pembaruan, 04 Nov 2007
Tanggal 7 bulan 7 tahun 2007 jam 7 pagi terlanjur dimitoskan orang sebagai waktu yang istimewa. Oleh karena itu studio Radio Swarakita pada jam, tanggal dan bulan itu banyak menerima tawaran siaran langsung dari berbagai pihak. Seorang pendeta jauh hari telah meminta radio untuk membuka pintu untuknya, agar pada saat itu ia bisa siaran khotbahnya. Seorang pengusaha muda dan sebuah grup band yang siap moncer juga menyorongkan jadwal yang sama. Seorang politisi anggota DPR ingin berbicara tentang "Indonesia yang lebih baik" pada jam 7 pula. Begitu juga seorang kyai yang biasanya menyiarkan dakwah magrib di radio itu.
Pintu yang Terkunci
Azizah Hefni
Jawa Pos, 01 Juli 2007
Ia pergi dengan gayanya yang gagah. Tangannya meraih kemeja dan celana, lantas mengenakannya. Ia sisir rambutnya, ia tuangkan minyak pelicin di atasnya. Laki-laki itu meraih jam tangan di meja sisi ranjang tempatku rebah, menyemprotkan minyak wangi, mengambil tas, dan memakai sepatu. Tanpa menolehku yang pura-pura terpejam, ia membuka pintu terkunci itu. Tak ada bunyi derit. Cukup halus ia membuka dan menutupnya. Barulah suasana tenang. Seperti lautan yang sepi gulungan ombak. Seperti pasar yang jelang petang. Seperti sekolahan yang ditinggalkan para murid.
Jawa Pos, 01 Juli 2007
Ia pergi dengan gayanya yang gagah. Tangannya meraih kemeja dan celana, lantas mengenakannya. Ia sisir rambutnya, ia tuangkan minyak pelicin di atasnya. Laki-laki itu meraih jam tangan di meja sisi ranjang tempatku rebah, menyemprotkan minyak wangi, mengambil tas, dan memakai sepatu. Tanpa menolehku yang pura-pura terpejam, ia membuka pintu terkunci itu. Tak ada bunyi derit. Cukup halus ia membuka dan menutupnya. Barulah suasana tenang. Seperti lautan yang sepi gulungan ombak. Seperti pasar yang jelang petang. Seperti sekolahan yang ditinggalkan para murid.
Perut
Yanusa Nugroho
Jawa Pos, 03 Feb 2008
Malam larut, pekat, panas seperti ter. Tak ada udara yang mau bergerak, dan orang-orang itu pun seperti kehilangan pikiran.
Sementara laki-laki itu sendiri bahkan tak punya sebatang rokok pun untuk diisap. Kemarin, istrinya marah besar. Mungkin kesurupan roh Betari Durga. Semua dikutuknya. Bahkan tempayan kosong mereka, yang sudah beberapa bulan ini tak sempat terisi apa-apa itu, dikutuknya habis-habisan. Untunglah, kutukannya tidak manjur, sehingga tempayan itu tetap berujud tempayan.
Jawa Pos, 03 Feb 2008
Malam larut, pekat, panas seperti ter. Tak ada udara yang mau bergerak, dan orang-orang itu pun seperti kehilangan pikiran.
Sementara laki-laki itu sendiri bahkan tak punya sebatang rokok pun untuk diisap. Kemarin, istrinya marah besar. Mungkin kesurupan roh Betari Durga. Semua dikutuknya. Bahkan tempayan kosong mereka, yang sudah beberapa bulan ini tak sempat terisi apa-apa itu, dikutuknya habis-habisan. Untunglah, kutukannya tidak manjur, sehingga tempayan itu tetap berujud tempayan.
Menunggu Rembulan Datang
Slamet Rahardjo Rais
Suara Karya, 10 Nov 2007
Titan turun dari sebuah kendaraan umum bersama seorang anak lelaki kecil dan mungil.Nampaknya anak ini bandel.Tangan kiri dan tangan kanan Titan nampak cukup berat dibebani oleh barang-barang yang dijinjingnya penuh kesulitan. Sehingga nampak kerepotan ketika hendak menyeberangi jalanraya yang ramai kendaraan Beserta anak bandelnya itu ia bermaksud hendak menyeberangi jalanraya yang ramai lalulintas kendaraan. Untuk menyeberangi jalan raya menuju ke arah seberang anak yang bandel itu nampaknya ingin lepas menyeberang sendiri.
Suara Karya, 10 Nov 2007
Titan turun dari sebuah kendaraan umum bersama seorang anak lelaki kecil dan mungil.Nampaknya anak ini bandel.Tangan kiri dan tangan kanan Titan nampak cukup berat dibebani oleh barang-barang yang dijinjingnya penuh kesulitan. Sehingga nampak kerepotan ketika hendak menyeberangi jalanraya yang ramai kendaraan Beserta anak bandelnya itu ia bermaksud hendak menyeberangi jalanraya yang ramai lalulintas kendaraan. Untuk menyeberangi jalan raya menuju ke arah seberang anak yang bandel itu nampaknya ingin lepas menyeberang sendiri.
Kamis, 29 Juli 2021
O
Sutan Iwan Soekri Munaf
sinarharapan.co.id
Semenjak krisis moneter itu menerjang negeri ini, runtuhlah satu demi satu bank. Termasuk dua bank tempat Anna dan Iwan bekerja. Mula-mula Anna terpaksa di-putus-hubungan-kerjakan sebagai Kepala Cabang Bank A, karena kantor pusatnya menyalurkan kredit melebihi BMPK (batas maksimal penyaluran kredit) untuk kelompok usaha bank itu.
sinarharapan.co.id
Semenjak krisis moneter itu menerjang negeri ini, runtuhlah satu demi satu bank. Termasuk dua bank tempat Anna dan Iwan bekerja. Mula-mula Anna terpaksa di-putus-hubungan-kerjakan sebagai Kepala Cabang Bank A, karena kantor pusatnya menyalurkan kredit melebihi BMPK (batas maksimal penyaluran kredit) untuk kelompok usaha bank itu.
Rabu, 28 Juli 2021
Menikuskan Tikus
F. Rahardi *
Jikalau tikus-tikus sudah menjadi tidak seperti tikus lagi lantaran tak mau maling dan jinaknya bukan main hingga dia mau saja kita elus-elus lalu ketika kita masukkan ke saku celana dia diam saja, apa jadinya dengan manusia. Mereka pasti sudah menjadi tidak seperti manusia lagi hingga gemar sekali di tempat gelap untuk berbuat seperti tikus dan kadangkala menyuruk-nyurukkan moncongnya yang juga berkumis apabila kedapatan olehnya apa saja yang patut untuk disuruki moncong.
Jikalau tikus-tikus sudah menjadi tidak seperti tikus lagi lantaran tak mau maling dan jinaknya bukan main hingga dia mau saja kita elus-elus lalu ketika kita masukkan ke saku celana dia diam saja, apa jadinya dengan manusia. Mereka pasti sudah menjadi tidak seperti manusia lagi hingga gemar sekali di tempat gelap untuk berbuat seperti tikus dan kadangkala menyuruk-nyurukkan moncongnya yang juga berkumis apabila kedapatan olehnya apa saja yang patut untuk disuruki moncong.
Selasa, 20 Juli 2021
Ucu Sam
Marhalim Zaini
Minggu Pagi,Juli 2002
Ucu Sam mengamuk. Kebun karet seluas satu hektar dekat sungai Rambai itu, dini hari tadi habis dilahap api. Seperti orang kesetanan, Ucu Sam berteriak-teriak sambil mengacungkan parang panjang ke sekeliling kampung. Tak pelak, subuh yang biasanya damai dengan kicau burung murai, kini seperti dihantam badai. Orang-orang yang bersiap-siap berangkat ke batang karet untuk menunaikan rutinitas, tiba-tiba harus dikejutkan dengan suara petirnya Ucu Sam.
Minggu Pagi,Juli 2002
Ucu Sam mengamuk. Kebun karet seluas satu hektar dekat sungai Rambai itu, dini hari tadi habis dilahap api. Seperti orang kesetanan, Ucu Sam berteriak-teriak sambil mengacungkan parang panjang ke sekeliling kampung. Tak pelak, subuh yang biasanya damai dengan kicau burung murai, kini seperti dihantam badai. Orang-orang yang bersiap-siap berangkat ke batang karet untuk menunaikan rutinitas, tiba-tiba harus dikejutkan dengan suara petirnya Ucu Sam.
Sabtu, 17 Juli 2021
Gandrung
Lan Fang *
jawapos.co.id
APAKAH kau pernah melihat bulan bulat dengan kilap mentega? Itu hanya terjadi setahun sekali. Ketika itu pekat akan menyingkir dari semesta galaksi. Langit bersih seperti baru dicuci oleh hujan. Gelembung-gelembung harum alam merintik dari segenap pori-pori awan.
jawapos.co.id
APAKAH kau pernah melihat bulan bulat dengan kilap mentega? Itu hanya terjadi setahun sekali. Ketika itu pekat akan menyingkir dari semesta galaksi. Langit bersih seperti baru dicuci oleh hujan. Gelembung-gelembung harum alam merintik dari segenap pori-pori awan.
Kamis, 15 Juli 2021
Nyonya Gondo Mayit
Rakhmat Giryadi
Ketika dinyatakan tidak jadi mati, Nyonya Sugondo seperti manusia setengah mayat. Orang-orang kampung sering memelesetkan dengan Nyonya Gondo Mayit, artinya bau mayat. Namanya sendiri sebenarnya Satemi. Sugondo adalah nama suaminya yang telah meninggal dunia.
Ketika dinyatakan tidak jadi mati, Nyonya Sugondo seperti manusia setengah mayat. Orang-orang kampung sering memelesetkan dengan Nyonya Gondo Mayit, artinya bau mayat. Namanya sendiri sebenarnya Satemi. Sugondo adalah nama suaminya yang telah meninggal dunia.
Selasa, 06 Juli 2021
Pita Merah
A. Rodhi Murtadho *
Pita merah melekat erat di kepang rambut. Tertali rapi disengaja. Menambah kesan hati. Tertarik, imut merayap. Menitip segala yang mengguncang hati. Adat meratap tak bertuan. Hanya menyalahkan. Tak tertahan degup jantung. Mencuat menadakan rasa dari pandang. Menggeliatkan seluruh asa yang memekakkan. Hanya harap bertambah cemas terus melayang. Tak juga mengguncang karena dia belum juga datang. Hanya bisa menjadi selayang pandang berdendang. Pada setiap kehidupan.
Pita merah melekat erat di kepang rambut. Tertali rapi disengaja. Menambah kesan hati. Tertarik, imut merayap. Menitip segala yang mengguncang hati. Adat meratap tak bertuan. Hanya menyalahkan. Tak tertahan degup jantung. Mencuat menadakan rasa dari pandang. Menggeliatkan seluruh asa yang memekakkan. Hanya harap bertambah cemas terus melayang. Tak juga mengguncang karena dia belum juga datang. Hanya bisa menjadi selayang pandang berdendang. Pada setiap kehidupan.
Jumat, 14 Mei 2021
S I R R I *
S. Jai
MEMBACA garis hidupku, aku terobsesi pada cinta tiga perempuan sepanjang hidup: perempuan bermata tajam seperti elang yang kini jadi istriku, gadis bermata bening sebening telaga sebagai kekasih hatiku, dan kelak akan kuburu cinta perempuan buta agar bisa kulihat dunia dengan ketajaman matahati.
“Semua itu atas nama cinta. Begitu pula cintaku padamu, Rohana,” tulisku di akhir surat tertuju Rohana.
MEMBACA garis hidupku, aku terobsesi pada cinta tiga perempuan sepanjang hidup: perempuan bermata tajam seperti elang yang kini jadi istriku, gadis bermata bening sebening telaga sebagai kekasih hatiku, dan kelak akan kuburu cinta perempuan buta agar bisa kulihat dunia dengan ketajaman matahati.
“Semua itu atas nama cinta. Begitu pula cintaku padamu, Rohana,” tulisku di akhir surat tertuju Rohana.
Sabtu, 13 Februari 2021
Matahari Pulang, Cakrawala dan Perempuan
M.D. Atmaja
Sekelebat mata, sang Perempuan berlari di atas pasir yang basah. kakinya lincah. Seperti anak kecil yang bermain di taman kembang kesayangannya. Perempuan itu sesekali melemparkan pandangan pada Lelaki yang hanya duduk di atas gunungan pasir. Perempuan itu, menatap manja sambil sesekali menghindari ombak yang mendebur dan sambil meletupkankan tawa riang.
Sekelebat mata, sang Perempuan berlari di atas pasir yang basah. kakinya lincah. Seperti anak kecil yang bermain di taman kembang kesayangannya. Perempuan itu sesekali melemparkan pandangan pada Lelaki yang hanya duduk di atas gunungan pasir. Perempuan itu, menatap manja sambil sesekali menghindari ombak yang mendebur dan sambil meletupkankan tawa riang.
Rabu, 30 Desember 2020
SENANDUNG CINTA DARI BU WINA
Atafras *
Sebut saja aku Aira, siswa kelas sembilan di sebuah SMP Negeri yang cukup membanggakan. Kalau kata emakku, aku sudah kelas tiga SMP. Sudah gadis perawan. Tubuhku yang bongsor menambah kekhawatiran emak pada pergaulan dan penampilanku sehari-hari.
Jumat, 20 November 2020
Rumah Mungil di Pinggir Kota
Mario F. Lawi
Pos Kupang, 6 Sep 2009
Pagi berganti setiap hari. Juga matahari dan air di perigi. Tapi kami tetap tinggal di rumah yang sama. Menimbang langit yang sama. Mandi di air yang sama.
Pagi adalah matahari yang menyirami kami dengan kekuatan untuk bersyukur. Kami dibangunkan oleh derit pintu pagi yang dibukakan matahari agar kami dapat bergegas, sebab malam telah dikalahkan. Kami awali semuanya dengan kekhusyukan doa-doa kami yang kami pakai sebagai landasan pijak untuk menapaki hari-hari kami.
Pos Kupang, 6 Sep 2009
Pagi berganti setiap hari. Juga matahari dan air di perigi. Tapi kami tetap tinggal di rumah yang sama. Menimbang langit yang sama. Mandi di air yang sama.
Pagi adalah matahari yang menyirami kami dengan kekuatan untuk bersyukur. Kami dibangunkan oleh derit pintu pagi yang dibukakan matahari agar kami dapat bergegas, sebab malam telah dikalahkan. Kami awali semuanya dengan kekhusyukan doa-doa kami yang kami pakai sebagai landasan pijak untuk menapaki hari-hari kami.
Langganan:
Postingan (Atom)
20 Tahun Kebangkitan Sastra-Teater Lamongan
A Jalal
A. Anzieb
A. Khoirul Anam
A. Mustofa Bisri
A. Rodhi Murtadho
A. Syauqi Sumbawi
A.P. Edi Atmaja
Abdoel Moeis
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S.
Abdullah Abubakar Batarfie
Abdurrahman Wahid
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Acep Iwan Saidi
Achdiat K. Mihardja
Achiar M Permana
Adek Alwi
Adhi Pandoyo
Adib Baroya
Aditya Ardi N
Adri Sandra
Adu Pesona Sang Wakil Cawapres RI
Afrizal Malna
Agama Para Bajingan
Aguk Irawan MN
Agus Buchori
Agus Dermawan T.
Agus Mulyadi
Agus Prasmono
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunyoto
AH J Khuzaini
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Hasan MS
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Saifullah
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Akhmad Sekhu
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Alawi Al-Bantani
Alfatihatus Sholihatunnisa
Alfian Dippahatang
Ali Audah
Alim Bakhtiar
Amie Williams
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Amril Taufik Gobel
An. Ismanto
Andhi Setyo Wibowo
Andi Andrianto
Andong Buku #3
AndongBuku #3
Andrea Hirata
Anindita S Thayf
Anjrah Lelono Broto
Antologi Sastra Lamongan
Anton Wahyudi
Anugrah Gio Pratama
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Arafat Nur
Ardi Wina Saputra
Ardy Suryantoko
Arie MP Tamba
Arif Hidayat
Arif Saifudin Yudistira
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Asarpin
Ashimuddin Musa
Asrul Sani
Astuti Ananta Toer
Atafras
Audifax
Awalludin GD Mualif
Ayu Nuzul
Azizah Hefni
B Kunto Wibisono
Bahrul Amsal
Bambang Kempling
Beni Setia
Benny Benke
Beno Siang Pamungkas
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Bernando J. Sujibto
Binhad Nurrohmat
Bloomberg
Bre Redana
Budaya
Budi Darma
Buldanul Khuri
Bustan Basir Maras
Candra Adikara Irawan
Candrakirana
Cangaan Ujungpangkah Gresik Jawa Timur
Capres Cawapres 2019
Catatan
Ceramah
Cerpen
Chairil Anwar
Chicilia Risca
CNN Indonesia
Coronavirus
COVID-19
D. Zawawi Imron
Damiri Mahmud
Darju Prasetya
Darman Moenir
Deddy Arsya
Denny JA
Denny Mizhar
Devy Kurnia Alamsyah
Dhoni Zustiyantoro
Dian Sukarno
Didin Tulus
Dien Makmur
Din Saja
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddi Ahmad Fauji
Donny Anggoro
Donny Darmawan
Dr. Hilma Rosyida Ahmad
Dwi Cipta
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dyah Ayu Fitriana
Ecep Heryadi
Edy Suprayitno
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Elok Dyah Messwati
Engkos Kosnadi
Erdogan
Erwin Setia
Esai
Esti Nuryani Kasam
Evan Ys
F. Budi Hardiman
F. Rahardi
Fahmi Faqih
Fahrudin Nasrulloh
Fahrur Rozi
Faidil Akbar
Farah Noersativa
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathul Qorib
Fatkhul Anas
Feby Indirani
Felix K. Nesi
Festival Teater Religi
Festival Teater Religi Pelajar SLTA Se-kabupaten Lamongan
Fira Basuki
Forum Santri Nasional (FSN)
Frischa Aswarini
Fuad Mardhatillah UY Tiba
Fuad Nawawi
Galuh Tulus Utama
Gampang Prawoto
Gde Artawan
Geger Riyanto
Geguritan
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Guenter Grass
Gus Ahmad Syauqi
Gus tf
Gusti Eka
Habib Bahar bin Smith
Haiku
Hamdy Salad
Hamid Jabbar
Hamka
Han Gagas
Hary B Koriun
Hasan Basri
Hasnan Bachtiar
Heri Ruslan
Herman Hesse
Hertha Mueller
Heru Kurniawan
Hestri Hurustyanti
Holy Adib
Hudan Hidayat
Hujuala Rika Ayu
I Made Prabaswara
I Made Sujaya
IAI TABAH (Institut Agama Islam Tarbiyatut Tholabah)
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Idrus
Ignas Kleden
Iksaka Banu
Imam Jazuli
Imam Nawawi
Imammuddin SA
Iman Budhi Santosa
Indra Intisa
Indra Mahadi
Indra Tjahyadi
Irfan Afifi
Irine Rakhmawati
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan ZS
J.S. Badudu
Jadid Al Farisy
Jajang R Kawentar
Jawa Timur
Jean Marie Gustave le Clezio
JJ. Kusni
Jl Raya Simo Sungelebak
Jo Batara Surya
John H. McGlynn
Jordaidan Rizsyah
Jual Buku Paket Hemat
Juara 3 Lomba Lompat Jauh DISPORA LAMONGAN
Jurnalisme Sastrawi
K.H. Ma'ruf Amin
Kadek Suartaya
Kaheesa Kirania Putri Ayu
Kahfie Nazaruddin
Kalis Mardiasih
Kamaluddin Ramdhan
Kanti W. Janis
Karanggeneng
Kardono Setyorakhmadi
Kedai Kopi Sastra
Kedung Darma Romansha
Kemah Budaya Pantura (KBP)
KetemuBuku Jombang
KH. M. Najib Muhammad
KH. Muhammad Amin (1910-1949)
Khairul Mufid Jr
Khawas Auskarni
Khoirul Abidin
Khoshshol Fairuz
Ki Ompong Sudarsono
Kitab Arbain Nawawi
Kodrat Setiawan
Kompas TV
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA)
Komunitas Sastra dan Teater Lamongan
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII)
Komunitas-komunitas Teater di Lamongan
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI)
Kopuisi
Kostela
Kritik Sastra
Kumpulan Cerita Buntak
Kurnia Effendi
Kuswaidi Syafi’ie
L Ridwan Muljosudarmo
L.K. Ara
Lamongan
Lan Fang
Lawi Ibung
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M)
Literasi
Liza Wahyuninto
Lukas Luwarso
Lukisan
Lukman
Lukman Santoso Az
Lutfi Mardiansyah
M Farid W Makkulau
M. Faizi
M.D. Atmaja
Madrasah Aliyah Matholi'ul Anwar
Madrasah Ibtida’iyah Thoriqotul Hidayah 1
Mahfud Ikhwan
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maman S Mahayana
Manado
Manneke Budiman
Maratushsholihah
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria Magdalena Bhoernomo
Mario F. Lawi
Marsel Robot
Martin Aleida
Marwanto
Mashuri
Massayu
Masuki M. Astro
Masyhudi
Media Seputar Pendidikan
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
Memoar Purnama di Kampung Halaman
Mereka yang Menjerat Gus Dur
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Mien Uno
Moh. Dzunnurrain
Moh. Jauhar al-Hakimi
Mohammad Rafi Azzamy
Mohammad Rokib
Mohammad Yamin
Muafiqul Khalid MD
Much. Khoiri
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Alfatih Suryadilaga
Muhammad Antakusuma
Muhammad Fikry Mauludy
Muhammad Hafil
Muhammad Marzuki
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad N. Hassan
Muhammad Subarkah
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhidin M. Dahlan
Muhyiddin
Mukadi
Mukani
Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur
Musa Ismail
Mutia Sukma
N. Syamsuddin CH. Haesy
Nanang E S
Nara Ahirullah
Naskah Teater
Nezar Patria
Noor H. Dee
Nunus Supardi
Nur Haryanto
Nur Wachid
Nurel Javissyarqi
Nurul Komariyah
Okky Madasari
Olivia Kristina Sinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pagelaran Musim Tandur
Palupi Panca Astuti
Pameran Lukisan
Parimono V / 40 Plandi Jombang
PC. Lesbumi NU Babat
PDS HB Jassin
Pelukis Dahlan Kong
Pelukis Tarmuzie
Penculikan Aktivis 1988
Pendidikan
Pengajian
Pengarang kelahiran Lamongan
Pentigraf
Pepaosan
Perbincangan
Peringatan Hari Pahlawan 10 November
Pilang Tejoasri Laren Lamongan Jawa Timur
Pipiet Senja
Politik
Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan
Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang
Pramoedya Ananta Toer
Presiden Jokowi
Prosa
Puisi
Puisi Menolak Korupsi (PMK)
Puji Santosa
Pustaka LaBRAK
PUstaka puJAngga
R. Ng. Ronggowarsito
Radhar Panca Dahana
Raedu Basha
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rasanrasan Boengaketji
Raudlotul Immaroh
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Reuni dan Halal Bihalal Mts Putra-Putri Simo 1992
Ribut Wijoto
Riki Antoni
Riki Dhamparan Putra
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Roland Barthes
Rosi
Rosihan Anwar
RR Miranda
Rumah Budaya Pantura (RBP)
S. Jai
S.W. Teofani
Sabiq Carebesth
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Sainul Hermawan
Sajak
Salman Aristo
Sandiaga Uno
Sanggar Lukis Alam
Sanggar Pasir
Sanggar Rumah Ilalang
Sanggar Sastra Tasikmalaya (SST)
Sarasehan dan Launching Buku
Sartika Sari
Sasti Gotama
Sastra Kuno Suku Sasak
Sastri Bakry
Satmoko Budi Santoso
Satu Jam Sastra
Satyagraha Hoerip
Saut Situmorang
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
SelaSAstra Boenga Ketjil
Seni Gumira Ajidarma
Seni Rupa
Seno Gumira Ajidarma
Seputar Sastra Pendidikan
Sergi Sutanto
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sirdjanul Ghufron
Siwi Dwi Saputro
Slamet Rahardjo Rais
Soediro Satoto
Soekarno
Soeparno S. Adhy
Soesilo Toer
Soetanto Soepiadhy
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sosiawan Leak
Sri Handi Lestari
Sri Wintala Achmad
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sujatmiko
Sukarno
Suminto A. Sayuti
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahrudin Attar
Syaifuddin Gani
Syaiful Amin
Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili
Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari
Sylvianita Widyawati
Tangguh Pitoyo
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teater Ilat
Teater nDrinDinG
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Tias Tatanka
Timur Sinar Suprabana
Titi Aoska
Tiyasa Jati Pramono
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga
Toni Masdiono
Tri Broto Wibisono
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Tulus Wijanarko
Umar Fauzi
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Universitas Jember
Universitas Negeri Jember
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W.S. Rendra
Wage Daksinarga
Wahyu Aji
Warung Boengaketjil
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wiji Thukul
Wildan Nugraha
Wildana Wargadinata
Yanusa Nugroho
Yasraf Amir Piliang
Yerusalem Ibu Kota Palestina
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Herwibowo
Yuditeha
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Zainal Arifin Thoha
Zainuddin Sugendal
Zara Zettira ZR
Zehan Zareez
Zuhdi Swt